Cuma Kaki Yang Berjalan Lebih Lama Dari Biasanya

BISMILLAHMerantau… ya merantau. Sebagai anak rantau harus mandiri karena sudah jauh dari orang tua, seperti Sulis Tianto, Sutik, Encep Andi Nugraha dan Anggi Anggoro, mereka semua sedang merantau di kota Gudeg, kota Yogyakarta.ย  UAS di kampunya sudah selesai, ada waktu sekitar tiga hari sebelum masuk ke bulan suci Ramadhan. Anggi, Sulis dan Sutik kebetulan satu kelas dan mereka mempunyai rencana untuk jalan-jalan sebelum puasa dan sebelum teman-teman yang lainnya mudik. Kebetulan Sulis satu kost dengan Encep teman satu kampusnya tetapi beda kelas.

Rabu malam Sulis sedang asik facebookan dengan Sutik dikamarnya Encep. Mereka mempunyai rencana hari Kamis sore mau pergi ke rumah Alm Mbah Maridjan. Tapi rencana itu pun belum pasti karena biasanya kalau di rencanakan selalu gagal untuk berangkat. Di hari kamis besok yang penting kumpul saja dulu berankat atau tidaknya bagaimana besok.

Kamis sore Anggi dan Sutik main ke kost Sulis dan siap-siap untuk berangkat ke Gunung Merapi atau ke rumah Alm. Mbah Maridjan. Sutik mencoba SMS Encep “Cep, kamu jadi ikut gak ke Merapi, kalau mau ikut bareng aku saja, aku juga sendirian kok”, ujar Sutik. Encep pun membalasnya “Iya Insyallah aku ikut”.

Tak lama suara azan asar pun terdengar, mereka berempat segera ke Masjid untuk melaksanakan sholat Asar sebelum berangkat ke Merapi. Ketika mereka mau berangkat, Sulis menyuruh Encep memakai baju berwarna merah supaya kompak, secara spontan Encep pun menjawab “Oke”. Setelah itu mereka berangkat, padahal cuaca tidak mendukung karena mendung, mungkin juga mau hujan. Tetapi dengan cuaca seperti itu tidak mematahkan semangat mereka untuk pergi ke Merapi. Sulis yang mengendarai motor dengan Encep meminta berhenti karena merasa tidak biasa naik di depan. Dan akhirnya Sutik yang pindah ke motor yang tadi Sulis kendarai. Jadi Anggri dengan Sulis dan Sutik dengan Encep.

Ketika di perjalan Encep merasakan perbedaan, Sutik ini kalau naik motor cepat tidak seperti Sulis tadi. Encep yang di bonceng Sutik merasa tidak biasa, ketika di depan sudah kelihatan ada lampu merah, tetapi Sutik mengendarai motornya masih kencang. Dan ternyata ketika di lampu merah Sutik lupa berhenti bahwa di depan itu ada lampu merah. Sutik pun langsung menginjak rem dan berhenti, tetapi dia berhenti tidak sesuai dengan tempatnya karena sudah melebihi batas lampu merah, mau tetap berhenti di belakang banyak kendaraan yang membunyikan kelakson, ya mau tidak mau Sutik langsung tancap gas dan dia benar-benar menabrak lampu merah. Anggi dan Sulis yang mengikuti Sutik debelakang karena tidak tahu jalan, dia juga menerobos lampu merah..hee..hee..

Untung saja tidak ada polisi polisi, coba kalau ada bisa jadi mereka tertangkap dan tidak jadi jalan-jalan…hee.hee.. Setelah itu mereka lanjutkan perjalanan, cuaca semakin tidak mendukung dan akhirnya hujan. Mereka berusaha mencari tempat untuk berteduh. Ketika melihat di depan ada sebuah toko kebetulan toko itu tutup dan mereka segera berhenti sambil istirahat. Tak lama Sutik pergi mau beli gorengan. Lalu dimakan bareng teman-teman, “Lis ini lho dimakan biar gak dingin?”, ujar Sutik kepada Sulis. “Enggak tik, aku sedang puasa”. Anggi langsung menyaut “Sekarang hari Kamis ya, aku lupa”. Sutik pun bicara “Maaf lis, aku gak tahu, kirain kamu gak puasa”. Tetapi mereka tidak menghabiskan semua gorengannya, disimpan sebagian untuk Sulis buka puasa nanti.

Tak lama hujan pun murai reda, mereka melanjutkan perjalanan. Tetapi ketika diperjalanan Sutik sebagai komandan yang mengendarai di depan sebagai petunjuk jalan tiba-tiba bingung, jalannya lupa antara milih kiri atau kanan. Sutik memilihย  yang kanan, seletah beberapa kilo meter berjalan Sutik mulai bingung dan mempunyai firasat sepertinya jalan ini salah dan benhenti. Kebetulan dekat dengan warung, mereka pun pergi ke warung untuk membeli makanan dan minuman sekalian bertanya arah ke rumah Alm. Mbah Maridjan kemana.

Dan bapa pemilik warung pun memberi tahu, ternyata mereka salah jalan. Mereka pun langsung jalan lagi, tak lama azan magrib berkumandang, mereka sempat melewati masjid, tetapi mereka memutuskan untuk kembali lagi. Mending sholat magrib dulu, nanti gampang dilanjutkan perjalanannya. Mereka sholat di Masjid Al-Iman, Kedungsriti, Gondong, Umbulharjo Cangkringan Sleman.

Foto0008Ini suasana di Masjid Al-Iman. Yang sholat dimasjid itu tidak banyak hanya 12 orang laki-laki dan kurang lebih 7 orang perempuan. Ketika berwudlu air sangat dingin seperti es, sangat beda sekali dengan air di kostnya Sulis dan Encep. Sulis dan Encep merasakan perbedaan. Di masjid itu sholatnya sangat santai jeda dari azan sampai sholat, tidak seperti di Masjid Al-Munir dekat kos mereka, disana sangat cepat dan mereka berdua jarang sempat melaksanakan sholat sunat qobliah.

Foto0007

Ini foto Sulis dan Encep setelah sholat langsung memakai jaket, karena kedinginan ๐Ÿ™‚

Setelah sholat pun mereka langsung pergi melanjutkan perjalanan ke merapi. Sekitar 30 menitan mereka hampir sampai ke rumah Alm. Mbah maridjan. Disana tidak ada lampu sedikitpun jalan pun gelap gulita, kalau tidak naik motor mungkin tidak kelihatan. Ketika sampai di rumah Alm. Mbah Maridjan ternyata sangat sepi dan tidak orang sedikitpun, listrik juga tidak ada satu pun yang nyala. Akhirnya mereka kembali lagi untuk pulang, ketika diperjalanan turun hujan, mereka berusaha mencari tempat untuk berteduh.

Di depan terlihat sebuah gubug kecil bekas warung, dan mereka berhenti disitu untuk berteduh. “Wah asik banaget nih bisa seperi ini dengan sahabat, ngobrol dan makan bareng di Gubug Derita…hehe…hehe..” , ujar Sulis. Meskipun gelap tetapi mereka tetap bisa berteduh dan disitu lumayan lama, mereka ngobrol-ngobrol dan makan cemilan dan roti yang sore itu dibeli ketika salah jalan. Mereka bersyukur karena gara-gara salah jalan mereka jadi membeli makanan. “Kirain di atas itu rame dan banyak yang jualan makanan”, ujar Sutik. Untung saja mereka sudah membeli makanan, kalau tidak mungkin bisa jadi mereka kelaparan.

Hujan pun reda, mereka berencana tidak pulang tetapi berniat untuk nginap di masjid. Di masjid mana saja yang penting bisa tidur supaya besok pagi bisa pergi ke merapi lihat sunrise, ujar Sutik. Ketika diperjalan hujan kembali lagi mengguyur mereka, Anggi dengan spontak belok arah dan ternyata disitu ada Masjid, mereka sholat isya disitu dan rencana menginap juga dimasjid itu.

Tapi ketika mereka sampai di masjid, sholat isyanya baru selesai. Sulis dang Anggi langsung bilang sama orang yang jadi Imam tadi “Pa boleh saya nginap di Masjid ini?”, bapa itu pun langsung menjawab “boleh-boleh mas, manfaatin saja masjid ini”.

Mereka sangat senang karena bisa istirahat di Masjid At-Taubah, Ngrangkah, Pangurejo, Umbulharjo, Cangkringan Sleman. Di masji At-Taubah juga airnya sangat dingin. Mereka langsung sholat isya yang di pimpin oleh Imam Sutik. ๐Ÿ™‚ย  Setelah sholat mereka pun tidak langsung tidur, tetapi nyapu dan ngepel lantai dulu, karena tadi habis hujan jadi kotor.

Foto0012Inilah Encep sedang menyapu lantai karena kotor. ๐Ÿ™‚

Foto0011

Dan ini adalah Sulis yang ngepel lantainya ๐Ÿ™‚

Setelah itu mereka masuk Masjid dan siap-siap untuk istirahat. Mereka meskipun di masjid sangat kedinginan. Mereka bersyukur karena dimasjid itu sangat-sangat luas untuk mereka berempat, di dalam masjid pun mereka tidak langsung tidur tetapi mereka ngobrol-ngobrol dan memakai roti tawar di campur susu, supaya bisa mengurangi dingin yang dirasakan.

Foto0016Mereka dengan berbagai cara menutupi tubuh mereka supaya tidak kedinginan, karena jaket mereka semua basah kena hujan. Kalau ini adalah Sutik, cuma Sutik yang mengenakan celana pendek tetapi di luar biasa karena telah mempersiapkan kaos kaki, sarung dan mantel. Cuma Sutik satu-satunya yang tidur menggunakan mantel..hehe..hehe.. Mungkin belum ada juga sebelumnya ๐Ÿ™‚

Malahan Anggi menyarankan Sulis untuk memakai mukena, nanti ya kalau sholat ibu-ibu itu nyari mukenanya gimana..hehe, ujar Encep.

Foto0020

Ini dia Anggi, dia juga kedinginan dan kelaparan. Lihat saja ketika roti yang mau dikasih susu dia gigit ujungnya..hehe.. Secara bergantian mengambil rotinya. ๐Ÿ™‚

Foto0017

Ketika yang lain makan roti, ada yang sudah tidur juga. Kalau Encep sendiri sibuk menulis, menulis cerita apa yang sedang ia jalani. Encep menulis juga tangannya sampai tidak kuat bergetar karena kedinginan ..hehe.. Cuma Encep yang tidurnya tidak menggunakan sarung, jaket apalagi mantel..hehe.. Karena jaketnya basah, ketika tidur pun ia merasakan tidak nyenyak. Sampai-sampai ketika tidur Encep merasakan 4 kali bangun karena kedinginan. ๐Ÿ™‚

***

Mereka dengan kompak bangun pagi pukul 04.00 semua, dan merena duduk untuk menunggu azan subuh, tetapi sampai setengah 5 lebih tidak ada azan yang terdengar. Mereka mau sholat takut mendahului azan, karen belum terdengar azan. Tak lama ada seorang ibu-ibu yang datang dan berkata “Mas, kok belum azan, azan saja. Biasanya yang azan anak saya, tetapi sekarang dia lagi tidak disini”. Sutik pun menjawab, “Iya bu, tadinya mau azan tetapi belum ada azan yang terdengar”.

Karena waktu sudah hampir pukul 05.00, jadi mereka langsung sholat saja, setelah sholat mereka berbincang-bincang dengan ibu yang tadi, beliau namanya Ibu Panut dan mereka sempat menyakan rumah Alm. Mbah Maridjan juga. Dan ternyata ibu itu putri pertama dari Alm. Mbah Maridjan yang selamat dari gemba Merapi beberapa tahun kebelakang. Dulu 7 sapi perah yang saya miliki musnah terkena gempa, bahkan semuanya dan yang tersisa cuma pakaian yang dipakai saja, ujar Ibu Panut (Putra Alm.Mbah Maridjan)

. . . . . . . . . . . .oOo . . . . . . . . . . .

Mendengar cerita bu Panut sangat terharu dan kasihan. Tetapi beliau bersyukur karena masih hidup sampai saat ini. Dari kejadian itu mengingatkan Encep, Anggi, Sulis dan Sutik akan apa semua yang kita miliki saat ini di dunia hanyalah titipan, kita harus banyak-banyak bersyukur.

Setelah itu mereka lanjutkan untuk pergi ke rumah Alm. Mbah Maridjan, ketika dijalan tidak usah khawatir tidak ketemu rumahnya karena ada plang atau papan penunjuk arah menuju rumah Alm. Mbah Maridjan :

Foto0211

Foto0217

Tidak sulit untuk mencari rumah Alm. Mbah Maridjan.

Ada penunjuk jalan bertuliskan menju rumah Mbah Maridjan pinggir jalan utama menuju puncak Merapi. Pengunjung menyusuri sebuah gang sempit untuk sampai bekas rumah juru kunci Merapi ini.

Foto0215 Setelah melewati petunjuk ke rumah Alm. Mbah Maridjan, lalu ada plang lagi ke PATILASAN NDALEM MBAH MARIDJAN, disana mereka melihat tempat duduk, dan prabotan yang terbakar oleh lahar ketika meletusnya gunung merapi. Ada juga mobil danย  motor yang terbakar ketika meletusnya gunung merapi. Tak lupa Encep pun mendokumentasikannya :

Foto0027

Ini foto Sulis, Encep dan Anggi ketika mau masuk ke PATILASAN NDALEM MBAH MARIDJAN.

Foto0028

Sepeda motor dan mobil milik relawan yang gagal menjemput Mbah Maridjan ikut terpanggang pasannya erupsi Merapi.

Dusun Kinahrejo yang tadinya dihuni warga, kini tidak ada lagi.

Foto0029

Foto0030

 

Foto0032

Ditempat ini sekarang dijadikan semacam museum mini, sebagai penanda dan tempat mengenang jasa Mbah Maridjan yang juga menjadi sesepuh di Dusun Kinahrejo. Dusun Kinahrejo kini tinggal kenangan. Praktis di dusun paling dekat dengan Gunung merapi kini tidak ada lagi penghuninya. Hanya sisa rumah yang telah roboh dan tertimbun tanah yang terlihat disekitar jalan menuju Puncak Gunung Merapi.

DSC_4492Nama Mbah Marijan, masih segar diingatan kita. Dia adalah juru kunci Gunung Merapi yang tinggal di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejak Merapi meletus pada 26 Oktober 2010 lalu dan kepergian untuk selamanya sang bintang iklan Sidomuncul ini, kini bekas rumahnya menjadi tempat tujuan wisata Gunung Merapi.

Ketika Encep sedang asik foto-foto, tiba-tiba ada tiga remaja yang ngobrol dengan bahasa Sunda. Encep sebagai orang sunda langsung mendekatinya dan bersalamam lalu ngobrol bareng. Ternyata mereka dari Banten kesini nganterย  adiknya untuk liburan. Tak lama Sulis pergi jalan sendiri ke tempat yang banyak bebatuan dan pemandangannya juga bagus.

Foto0035Sulis sudah berada di atas batu, dan Sutik, Encep Anggi baru menyusulnya, dan penasaran dengan batu yang dipijak Sulis, sepertinya besar sekali, ketika Encep mendekati ternyata ada tulisannya di papan, Encep pun langsung mendokumentasikannya ๐Ÿ™‚

aFoto0036Ini dia foto Encep dibawah nama batu yang Sulis pijak, yaitu Batu Tumpeng, entah kenapa dinamai batu tumpeng. Apa mungkin bentuknya seperti tumpeng..hehe…. Tak lama Encep pun ingin naik ke batu itu sama seperti Sulis ๐Ÿ™‚

Foto0037Ini foto Encep ketika naik ke batu itu, Encep menggunakan sendal tetapi supaya tidak sakik kakinya, tetapi malah licin karena sendal yang dipakenya sudah jelek ๐Ÿ™‚ย  Sutik pun ingin naik juga sama seperti Encep, dan akhirnya dia naik juga.

Foto0039

Foto0042Ini dia foto mereka bertiga, tetapi Anggi sendiri tidak naik dia kan yang memofonya..he..he… Terimakasih mas Anggi ๐Ÿ™‚

Setelah foto-fotoa, ternyata ada yang kurang, fotonya duduk semua. Dan mereka mencoba berdiri..hee..hee..

aFoto0043

Nah ini dia, seperti sang pemberani..hee..hee..

aFoto0050xA

Ketika turun Encep dan Sulis pun berfoto di dekat tulisan Batu Tumpeng itu ๐Ÿ™‚ย  Tidak hanyak di dekat batu tumpeng itu, ini dia :

Foto0048

Foto0054

Foto0058

Foto0061

Foto0064

Foto0062

Setelah foto-foto, Anggi menemukan botol aqua bekas dan disimpan di atas batu tetapi jatuh terus, dia mempunayi akan di dalam aqua itu dikasih tanah dan lalu di tauh di atas batu. Lalu Anggi lempari dengan batu dan dengan jarak yang lumayan jauah. Siapa yang bisa menjatuhkan aqua itu berarti hebat. Anggi berulang kali selalu berhasil menjatohkan aqua itu. Begitupula dengan Sutik. Tetapi untuk Encep dan Sulis belum pernah kena botol lemparannya itu, padahal satu dua batu sudah dilemparkan bahkan puluhan batu.

Saking kesalnya, Sulis lemparkan batu yang ukurannya cukup besar, tetapi tetap saja belum kena sasaran ..hehe..hee… Ini dia foto lomba melempari botol ๐Ÿ™‚

Foto0056

Awalnya Encep dan teman-teman mengumpulkan batu untuk membuat tumpukan yang tinggi.

Foto0059

Begitupula denga Sutik dia memilih batu yang bentuknya besar untuk ditumpuk.

Foto0065

Foto0068

Foto0067

Foto0070

Dibawah ini foto ketika mereka berlompa melempari botol ๐Ÿ™‚

Foto0075

ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย  Foto0073

Sulis dan Encep ternyata memilih untuk berhenti karena capek. Dan akhirnya semuanya juga selesai. Tak lama mendengar jeritan keras, kata Sutik itu orang yang naik ke atas (puncak) dengan mobil jeep. Mereka semakin penasaran ingin naik ke atas juga. Dengan jalan kaki, hanya orang-orang yang bernyali, ujar Sutik.

aFoto0085Ketika diperjalanan mereka menemui tulisan menutu batu tumpeng, padahal mereka baru saja dari sana.

Tapi tak apa lah, tetap aja foto ๐Ÿ™‚ Encep dan Sulis yang foto.

aFoto0084

Foto yang kedua entah kenapa Sulis dengan gaya seperti itu, apakah dia merasakan rasa yang begitu kecut sehingga mukanya berekpresi seperti itu..hee..hee..

***

Ini dia ketika diperjalan menutu puncak merapi.

Foto0077

Foto0077

Foto0089

Foto0091

ย ย ย  Foto0088

Ketika diperjalan entah kenapa Sulis terlihat menutup mata pas jalan. Mungkin dia sedang menikmati indah dan sejuknya pemandangan di pagi hari atau mungkin dia sangat ngantuk sehingga sambil tidur pun jadi..hee..hehe.. ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€

Tak lama mereka melihat banyak mobil jeep dan banyak juga yang jualan makanan, mereka pun langsung tertarik tetapi ada sebuah sungan yang harus dilewati, tetapi tidak ada jembatannya. Karena mereka selalu bilang “Hanya mereka yang bernyali”, maka dari itu merekaย  langsung melewatinya.

Foto0095

Foto0096

Encep dan Sulis sempat-sempatnya eksis dulu sebelum melewati sungai itu ๐Ÿ™‚

Foto0100

Sulis ketika mau turun ๐Ÿ™‚

Foto0102

Encep sedang memegang kayu yang tadinya mungkin menjadi jembatan, memang kayu itu sudah rapuh ๐Ÿ™‚Foto0104Mereka melanjutkan untuk naik, semangat (hanya mereka yang bernyali). Ketika mereka sampai di atas, ternyata ada sebuah batu besar, Encep dan Sulis penasaran. Dan Sulis menebaknya itu batu gajah. Pas mereka berdua melihat ke depan ternyata betul batu itu namanya batu gajah. Encep langsung eksis ๐Ÿ™‚

Foto0107

Ketika melanjutkan perjalanan, mereka penasaran dengan suatu tempat yang di pagar di sekelilingnya. Mereka langsung mendekatinya dan masuk.

Foto0120

Ketika sampai ternyata itu namanya, BANGKER. Bungker itu tempat atau ruang darurat untuk bahaya bencana erupsi gunung merapi.Foto0181x

Foto0112

Sebelum mereka masuk, sebagai kenangan Sulis, Sutik dan Encep foto dulu ๐Ÿ™‚

Foto0110

Mereka pun langsung masuk, dan di dalam itu gelap sekali tidak ada lampu sama sekali, memang dulunya ada. Tetapi semenjak letusan gunung merapi belum di perbaiki lagi. Di dalamnya juga ada dua kamar mandi. Tetapi sekarang sudah tidakย  berfungsi lagi. Malahan ketika erupsi gunung merapi ada salah seorang warga yang menyelamatkan diri di BUNGKER itu, dan ternyata malah tertutupi oleh tanah yang longsor. Karena BUNGKER itu tempatnya di bawah tanah.

Setelah itu mereka jalan-jalan lagi, melihat pemandangan dan di ujung sana ada sebuah gubug. Mereka langsung mendekati.ย  Foto0116

Foto0135

Foto0138

Foto0141

Foto0145

Foto0146

Foto0150

Foto0152

Foto0155

Foto0160

Foto0161

Foto0170

***

Sebelum pulang mereka berempat mengumpulkan batu untuk di tumpuk, supaya menjadi kenang-kenangan nantinya, dan suatu saat nanti mereka ingin kembali lagi ke tempat itu.

Foto0172

Foto0173

Setelah selesai menumpuk batu mereka langsung berdoa bersama untuk keselamatan mereka pulang sampai tujuan yang di pimpin oleh Sulis Tianto.

Foto0179

Mereka sangat senang bisa menikmati indahnya ciptaan Allah di pagi hari, menikmati sejuknya embun di pagi hari bersama sahabat. Meskipun mereka jalan kaki tapi tidak ada rasa cape yang dirasa, mereka merasa senang dan bahagia.

Foto0194

Foto0196

Foto0198

Foto0199

Foto0200

Foto0202

Mereka juga memoto rumah-rumah dan warung-warung yang berjualan di jalan menuju merapi. Tetapi kebanyakan rumah yang ada sudah rusak akibat erupsi merapi.

Foto0206

Foto0207

Foto0220

Foto0221

Foto0222

Foto0223

Foto0225

Foto0226

Foto0228

Foto0229

Foto0230

Foto0232

Foto0233

Foto0234

Foto0235

Foto0237

Foto0238

Foto0240

***

Nah yang ini adalah sebuah warung yang mereka beri nama GUBUK DERITA, dimana gubug ini telah menjadi kenangan mereka semua terutama Sulis Tianto, dia pertama kalinya buka puasa di GUBUG DERITA dengan sahabat.

Foto0241

Foto0242

Foto0243

Foto0244

Begitu senang yang mereka rasakan, bahagia itu sederhana. Mereka berempat bercita-cita suatu saat nanti ingin menginjakan kakinya di puncak gunung MAHAMERU, semoga apa yang diinginkan mereka bisa terkabul.

Mereka yakin suatu saat nanti masih tetap bersama, persahabatan mereka akan tetap berjalan, dan mereka yakin suatu hari nanti akan sukses.

KARENA ALLAH KITA SEMUA SUKSES.. AAMIIN. ๐Ÿ™‚

Sahabatmu

ean

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s