Interaksi antara Laki-Laki dengan Wanita yang Halal dan yang Haram: Memahami Apa itu Ikhtilat

Interaksi antara Laki-Laki dengan Wanita
yang Halal dan yang Haram: Memahami Apa itu Ikhtilat
Sebetulnya jarang-jarang saya membahas fiqih secara fokus di satu artikel blog ini. Itu artinya, kalau udah saya bahas secara fokus begini, ini penting. Serius, ini penting! Soalnya, ternyata banyak diantara kita yang belum paham tentang ikhtilat ini. Kalau ikhtilat ini belum dipahami, nggak heran, jadinya kita kerap terjerumus dalam dosa. Padahal, saya kepingin banget istiqomah. Tentunya kita semua butuh banget istiqomah.
Nah, Terus, Apa itu Ikhtilat?
Beli Tas Ransel Wanita Murah SekarangIkhtilat itu artinya adalah, ketika beberapa cowok dan beberapa cewek berkumpul-kumpul pada suatu tempat, yang padahal mereka semua itu bukan mahrom. Plus, terjadinya interaksi di antara mereka. Seperti halnya ngobrol, nyentuh tangannya, dan sebagainya.
Contohnya? Banyak. Cukup lumrah terjadi. Seperti halnya ketika Anda naik angkot. Nah, itu kan di angkot itu, Anda akan berpapasan dengan laki-laki maupun perempuan yang bukan mahrom. Sudah begitu, sampai berdesak-desakan lagi. Yang lebih konkrit lagi, itu kalau naik Kereta Api. Wah, sepertinya sulit untuk menghindari ikhtilat kalau sudah begitu.
Emangnya Kenapa Kalau Ikhtilat?
Lantaran, dalam Islam, ikhtilat itu hukumnya haram. Berdosa kalau Anda begitu. Artinya, yah nggak boleh Anda ngumpul-ngumpul dan berinteraksi begituan dengan lawan jenis yang bukan mahrom Anda. Lagian, kalau kita lihat faktanya sekarang, ujung-ujungnya ikhtilat itu akan menuju kepada:
Sesungguhnya ikhtilat adalah jalan yang memudahkan terjadinya berbagai kemaksiatan. Antara lain, terjadinya khalwat, yaitu laki-laki yang berdua-duaan dengan perempuan yang bukan mahramnya. Sabda Rasulullah SAW, ”Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang perempuan, karena yang ketiganya adalah syaitan.”

[HR. Ahmad]

Kan Nggak Ngapa-Ngapain?
Kalau nggak ngapa-ngapain, yah ngapain ngumpul-ngumpul? Hehehe! Kalau nggak ngapa-ngapain, yah nggak apa-apa. Coba Anda simak sekali lagi definisi ikhtilat yang dipaparkan di atas. Ikhtilat itu, terjadi karena 2 hal. Satu, bercampur baurnya pria dan wanita yang bukan mahrom dalam satu tempat. Dua, terjadi interaksi diantara mereka.
Nah, kalau cuman bercampur baur doang, nggak ada interaksi, yah nggak apa-apa. Kayak misalnya kalau Anda lagi ke Mall tuh. Itu kan pas Anda lagi lihat-lihat barang, di dekat Anda juga ada banyak lawan jenis yang bukan mahrom. Selama tidak ada interaksi, nggak apa-apa. Anda nggak berdosa.
Tapi, Ada juga Ikhtilat yang Halal
Yah, ada pengecualian. Ada saat-saat laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom boleh berkumpul di suatu tempat, dan berinteraksi. Yakni, tatkala pada perkara:
  • Jual-Beli. Maksudnya, kalau Anda lagi jajan, belanja, dan sebagainya.
  • Pendidikan. Dengan kata lain, belajar dan mengajar. Nah, kayak kalau di Sekolah maupun di Kampus. Dan sebagainya.
  • Kesehatan. Seperti halnya kalau Anda ke dokter dan dicek sakit apa. Juga, seperti pas Anda diopname di Rumah Sakit. Dan sebagainya.
  • Sosial. Seperti halnya dalam dakwah, pengadilan, dan sebagainya.
  • Ibadah. Seperti halnya berhaji.
Waspadai Modus!

Dan pada kasus lainnya, adalah dimana saat memang mengharuskan laki-laki dan perempuan itu berinteraski. Yang jika mereka tidak berinteraksi, maka kepentingan tersebut tidak bisa terjadi. Seperti halnya ketika Anda belanja di Indomaret, rupanya yang jaga kasirnya lawan jenis. Tinggal sendirian pula dia. Kan nggak mungkin kalau kita langsung borong nggak bayar kan?

Tapi, sekiranya ada kepentingan yang bisa dilakukan tanpa harus ikhtilat, yah janganlah ikhtilat. Seperti halnya untuk makan di KFC. Ngapain ngajak-ngajak lawan jenis yang bukan mahrom? Toh, makan sendirian juga bisa. Apa perlu makannya sambil disemangatin, “Cemungudh Qaqack!” gitu? Ah, itu mah modus namanya! Hehehe!
Terpisahnya Kehidupan Laki-Laki dan Perempuan
Pada awalnya, komunitas laki-laki dan perempuan itu harusnya terpisah. Yang namanya komunitas (dalam artian kumpulan individu), laki-laki cukup berkumpul dengan laki-laki saja, dan perempuan cukup ngumpul dengan perempuan saja. Makanya kan, dalam sholat shafnya dipisah. Dalam kajian, shafnya dipisah. Harusnya, dalam urusan lain juga dipisah. Cukup jelas kita udah dikasih tahu hal begini, dari cerita-cerita pas Rasulullah hidup waktu itu.
Kalau dulu, aturan ini diberlakukan menjadi undang-undang resmi di negara. Cuman, semenjak tahun 1924, negeri Islam yang satu jadi terpecah belah, sehingga menjadi Indonesia, Malaysia, Arab, Turki, dan sebagainya. Ketika sudah pecah begitu, akhirnya yang mengatur undang-undang adalah orang yang nggak hobi dengan Al-Qur’an dan hadits. Mereka lebih hobi mengikuti aturan yang dibuat oleh sebagian kaum Yahudi dan Nasrani, notabene tak hobi dengan syariat Islam.
Manfaat Tak Ikhtilat
Terpisahnya Komunitas Cowok dan Cewek Non-MahromHebatnya, Islam itu menyediakan cara-cara yang cerdas. Salah satunya, Islam sangat paham dengan prinsip “Mencegah lebih baik daripada mengobati”. Makanya, Islam memilki sistem yang kuat, yang pernah selama lebih dari 1300 tahun negeri Islam berjaya, Islam memilki rekor terbaik berupa negeri yang kasus kriminalnya paling sedikit, diantara negeri-negeri lain yang menerapkan sistem Demokrasi, Republik, Kerajaan, dan sebagainya.
Kenapa bisa begitu? Tentulah, salah satu penyebabnya, karena undang-undang secara tegas melarang ikhtilat. Karena pelarangan ikhtilat merupakan solusi yang mengakar. Bukan solusi ecek-ecek yang sementara.
Maksudnya, ibaratnya solusi ecek-ecek itu, ketika atap Rumah Anda bocor, dan kalau hujan jadinya tetesan air berjatuhan melulu, maka Anda naruh ember di tempat jatuhnya tetesan air tersebut. Sedangkan solusi mengakarnya adalah, Anda perbaiki atap Rumah Anda.
Soalnya, kalau ngerjain solusi sementara, itu menyebabkan kita jadi capek, besok-besoknya harus ngurusin masalah itu lagi. Kalau solusi mengakar, insya Allah besok masalahnya nggak ada lagi.
Lagi pula, emang dasar Allah dan RasulNya yang memerintahkan kan?
Kedua mata zinanya adalah memandang [yang haram]; kedua telinga zinanya adalah mendengar [yang haram], lidah zinanya adalah berbicara [yang haram], tangan zinanya adalah menyentuh [yang haram], dan kaki zinanya adalah melangkah [kepada yang haram].

[HR. Muslim]

…para wanita yang ikut hadir dalam shalat berjamaah, selesai salam segera bangkit meninggalkan masjid pulang kembali ke rumah mereka. Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan jamaah laki-laki tetap diam di tempat mereka sekedar waktu yang diinginkan Allah. Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit, bangkit pula kaum laki-laki tersebut.

[HR. Bukhari]

Nah, kan, yang keluar perempuan dulu, baru laki-laki. Kalau keluar bersamaan, bisa-bisa ikhtilat jadinya.

Tidaklah merajalela perbuatan zina di suatu kaum, kecuali kematian pun akan merajalela di tengah kaum itu.

[HR. Ahmad]

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.
[QS. An-Nuur (24): 31]
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya* ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 
[QS. Ar-Rahmaan (33): 59]
*sejenis gamis
The source:
  • Buku Khuthurah Al Ikhtilath (Bahaya Ikhtlath), karya Syaikh Nada Abu Ahmad.
  • Buku Al Ikhtilath Ashlus Syarr fi Dimaar Al Umam wal Usar (Ikhtilat Sumber Keburukan bagi Kehancuran Berbagai Umat dan Keluarga), karya Syaikh Abu Nashr Al Imam.
  • Buku Al Ikhtilath wa Khatruhu ‘Alal Fardi wal Mujtama’ (Ikhtilat : Bahayanya Bagi Individu dan Masyarakat), karya Syaikh Nashr Ahmad As Suhaji
  • Buku An Nizhamul Ijtima`i fil Islam karya Taqiyuddin An Nabhani.
Baca pula artikel lainnya yang berkaitan:
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s