Lebih Rendah Derajatnya dari Ali Bin Abi Thalib

SETELAH wafat khalifah Ali dan penggulingan
Hasan, Muawiyah menjadi kepala negara. Didukung oleh
wawasan yang luas, energinya yang tak kenal lelah dan
daya nalarnya yang kuat, Muawiyah mampu melucuti
senjata kaum oposisi dalam rangka mewujudkan ambisinya.
Tetapi masih banyak orang yang dengan terangterangan
menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap
perlakuan Muawiyah atas khalifah terakhir dan kerabat
beliau.
Salah seorang dari mereka adalah Darima, seorang
wanita usia lanjut dari Madinah. Semua orang yang
mengenalnya akan merasa takut dengan lidahnya yang
tajam. Suatu hari, Muawiyah mengundangnya menghadap
dan percakapan berikut terjadi antara mereka.
“Apakah benar, seperti yang kudengar, bahwa Anda
adalah wanita yang salehah dan cerdas?” tanya Muawiyah
membuka pembicaraan.
“Anda tidak mendengar dari mulutku, jadi aku tidak
bertanggung jawab atas benar tidaknya informasi itu,”
jawab si wanita ketus.
“Apakah benar Anda dahulu adalah pendukung
setia Ali?”
“Ya, seperti itulah.”
“Mengapa?”
“Karena dia adalah pecinta keadilan. Dia menghormati
orang-orang yang saleh dan bersimpati kepada
rakyat miskin.”
“Dan apakah benar bahwa engkau tidak memandangku
dengan penghormatan?
“Ya, benar.”
“Mengapa?”

“Karena dalam perkiraanmu, kerajaartmu lebih besar
dari kerajaan Ali.”
“Tetapi apa yang Ali lakukan?”
“Dia menerima untuk memegang kekuasaan sebagai
sarana yang berguna bagi pengabdian terhadap sesama.”
“Biarlah itu berlalu. Sekarang apa yang bisa kuperbuat
untukmu?”

“Secara khusus tidak ada. Tetapi jika Anda ingin,
Anda bisa memberiku unta merah dan anaknya.”
“Baiklah. Aku akan memberimu unta sesuai dengan
keinginanmu dan anaknya. Maukah engkau menganggapku
sama dengan Ali?”
“Sama sekali tidak.”
“Baiklah. Aku tidak ambil pusing bila kamu tak
menganggapku sebanding dengan Ali. Aku akan tetap
ramah kepadamu. Pulanglah! Seratus ekor unta dan anakanaknya
akan tiba di rumahmu hari ini juga. Tetapi ingatlah,
jika Ali masih hidup, dia tidak akan memberimu walau
hanya seekor.”
“Jangankan seekor unta. Seekor tikus pun tidak akan
beliau berikan padaku bila itu diambil dari Baitul Mal.”
“Kalau begitu mengapa kamu mengajukan permintaan
seperti itu padaku?”
“Aku hanya ingin melihat betapa rendah derajat
Anda bila dibanding dengan kemuliaan Ali.”
Keheningan mencekam seluruh majelis. Muawiyah
diam tak berkata-kata. Sinar matanya menerawang jauh
ke atas, seolah tengah melihat masa lalu.
—Tarikh-i-Hurriat-i-Islam
212

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s