Ibu, Mengapa Kamu Membenciku?

KOMPAS.com – Situs jejaring sosial seperti Facebook ternyata menjadi sarana yang sangat menguntungkan untuk menyampaikan perasaan seseorang. Tak terkecuali hari ini, 22 Desember. Bila Anda membuka Facebook, berhamburan lah segala pujian dari pengguna mengenai ibu mereka. Tentu, semuanya bernada memuji, memuja, mensyukuri, atau menghargai.

Tetapi sebelum jejaring sosial populer, ingatkah Anda untuk menyampaikan terima kasih atau rasa sayang pada ibu? Mampukah Anda menelepon ibu saat ini untuk menyampaikan langsung betapa bangganya Anda karena ibu telah bekerja keras agar Anda bisa terus sekolah dulu? Apakah Anda telah melanjutkan spirit yang sama seperti yang dulu dilakukan ibu Anda demi kelangsungan hidup keluarga? Mengapa yang kebanyakan dikenang adalah pengalaman masa kecil, bukan pengalaman bulan lalu, atau dua hari yang lalu?

Banyak di antara Anda yang mungkin memiliki hubungan yang kurang baik dengan ibu, justru setelah Anda dewasa. Relasi yang kuat dengan ibu ketika Anda kecil, ternyata menjadi begitu rumit ketika Anda mampu membuat keputusan-keputusan Anda sendiri. Semakin banyak Anda berdialog dari hati ke hati, makin besarlah jurang perbedaan antara Anda dengannya.

Anda mungkin pernah merasakan kekesalan yang mendalam, ketika ibu mulai mengkritik Anda saat remaja. “Anak perempuan kok tidak bisa memasak? Mengapa selalu memakai kaus dan celana panjang? Jangan pulang terlalu malam, tidak pantas dilihat tetangga!” begitu berbagai komentar dari ibu, yang membiarkan adik lelaki Anda pulang hingga dini hari.

Ketika dewasa, Anda mungkin juga mengalami tekanan dari ibu mengenai hubungan Anda dengan pasangan. “Kapan kamu menikah? Ibu malu ditanya-tanya terus oleh keluarga,” begitu katanya, membuat Anda makin resah. Ketika Anda sudah menikah, Anda juga dididik untuk melupakan rasa lelah, karena tugas Anda adalah melayani suami, apapun kondisinya. Atau, ibu selalu mengatakan bahwa bepergian seorang diri tak pantas lagi dilakukan karena Anda sudah berkeluarga.

Semua komentar, wejangan, dan desakan itu membuat Anda berontak. Namun, perlawanan Anda justru makin membuat ibu sakit hati. Deborah Tannen, profesor bidang linguistik di Georgetown University di Washington, DC, mengatakan, konflik semacam ini umumnya disebabkan anak perempuan merasa ibu mereka terlalu mengatur. Namun, Tannen meminta Anda untuk memahami mengapa komentar atau wejangan itu dilontarkan.

“Anda perlu menyadari bahwa sebagian dari alasan ibu bertindak semacam itu, adalah karena ia akan merasa gagal menjadi ibu kalau ada yang tidak berjalan baik pada diri Anda,” kata Tannen, yang juga penulis buku You’re Wearing That? Mothers and Daughters in Conversation.

Konflik terjadi karena perbedaan persepsi antara ibu dan anak. “Ibu cenderung melakukan (kritikan) itu karena rasa peduli, rasa ingin mengasuh. Sedangkan anak perempuan hanya melihatnya sebagai suatu kritikan,” tuturnya.

Dengan kata lain, apapun komentar atau tindakan dari ibu, sebenarnya datang dari rasa cinta. Ingin memastikan segala sesuatunya berjalan sempurna pada sang anak. Sayangnya, Anda tidak menyukai caranya itu. Oleh sebab itu Anda mungkin pernah mengatakan dalam hati, “Bu, aku sangat mencintaimu, tetapi mengapa Ibu mengatakan hal seperti itu padaku?” Hal inilah yang menciptakan hubungan cinta dan benci pada ibu dan anak perempuannya.

Faktor seperti genetik, kepribadian, status sosioekonomi, dan sejarah atau tradisi keluarga, bisa menjelaskan mengapa ibu Anda memiliki pandangan-pandangan yang tak sejalan dengan Anda. Budaya patriarki dalam masyarakat kita sering menempatkan perempuan di bawah lelaki, dan hal inilah yang diterima oleh ibu Anda sejak dulu. Nilai-nilai itulah yang ingin disampaikannya pada Anda, bahwa sebagai perempuan Anda harus menguasai pekerjaan rumah tangga, melayani suami, tidak boleh menuntut, dan lain sebagainya.

Dalam bukunya, Side by Side: The Revolutionary Mother-Daughter Program for Conflict-Free Communication, Dr Charles Sophy mengatakan, pada dasarnya ibu dan anak perempuan menginginkan hal yang sama: cinta, pengertian, dan penghargaan. Mereka berdua saling menginginkannya dari satu sama lain. Ibu menginginkan cinta, penghargaan, dan pengertian dari anak yang dilahirkannya ke dunia. Anak perempuan menginginkan hal yang sama dari perempuan yang memberikannya kehidupan.

Para ibu umumnya tidak akan mengizinkan anak perempuannya berdandan, atau mengencani seseorang yang sosoknya jauh dari kesan baik-baik. “Perilaku spesifik ini seringkali ada kaitannya dengan faktor perbedaan usia, tetapi juga merupakan manifestasi dari keinginan mendasar untuk dimengerti, dihargai, dan dicintai,” tuturnya.

Satu hal yang bisa memberikan peluang untuk menegosiasikan topik yang tak terhindarkan ini (sambil tetap menjaga hubungan yang menyenangkan) adalah komunikasi. Satu-satunya cara yang nyata ibu dan anak perempuan bisa mengembangkan hubungan yang sehat, saling mencintai, dan berlangsung selamanya, adalah memuaskan kebutuhan-kebutuhan ini. Barangkali Anda akan mengatakan bahwa komunikasi adalah sesuatu yang Anda lakukan secara konstan. Namun, sudahkah Anda menjalankan komunikasi yang efektif, yang jujur dan menghargai?

Berbahagialah Anda yang hingga saat ini masih menikmati hubungan yang manis dengan ibu Anda. Namun untuk Anda yang mengalami hubungan yang tak sempurna dengan ibu, belum terlambat untuk memperbaikinya. Dialog yang jujur dan saling mengerti, tidak hanya akan membuat Anda berdua mampu mengatasi gejolak dalam hubungan Anda, tetapi juga makin menguatkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s