PERJUANGAN MENJADI ANGGOTA MUDA

PERJUANGAN MENJADI ANGGOTA MUDA
oleh : Encep Andi Nugraha (Mahasiswa STMIK El Rahma Yogyakarta)
 
 

Hari Selasa dan Rabu tepatnya tanggal  12 dan 13 Februari 2014, dihari itulah hari yang aku tunggu-tunggu. Karena di hari itulah aku akan pergi mendaki ke Gunung Api Purba Nglanggeran tempatnya di Gunung Kidul. Rasanya senang sekali dan aku sudah tidak sabar untuk mendaki. Padahal pendakian ke gunung api purba itu baru pertama kalinya aku lakukan dan aku mendaki juga ada tujuannya yaitu aku ingin menjadi anggota muda di ERAPALA (El Rahma Pecinta Alam), jadi pendakian itu bisa disebut pelantikan.

     Hari Senin sebelum berangkat aku berempat bersama ketiga sahabatku sebut saja Abdulrahman Ar-Rohim biasa dipanggil Maman, Eko Mardiyanto, Hammad Musofa dan satu lagi sahabatku juga, dia namanya Mas Anto, mas Anto ini sebenarnya sudah menjadi anggota muda dalam ERAPALA bahkah setahu aku di struktur ERAPALA sendiri mas Anto sudah menjabat sebagai humas, tetapi belum dilantik menjadi ANGGOTA MUDA, jadi dilantiknya bareng bareng aku. Di hari Senin itu aku dan temanku sibuk menyewa peralatan, kebetulan untuk peralatan kami menyewa, karena kalau kami membeli harganya terlalu mahal. Dan ksmi juga mencari bahan makanan yang akan dibawa untuk mendaki sampai tengah malam ditambah cuaca tidak mendukung. Kami pun tidak sempat belajar materi yang akan besok di presentasikan ketika pelantikan.

     Pukul 22.00 WIB aku dan Maman baru pulang dari indomaret habis nyari gula, obat-obatan, air mineral, dan makanan yang mengandung sumber protein. Kebetulan untuk Hammad dan Eko tidak bareng denganku untuk mencari perlengkapan yang dibawa mendaki karena Hammad di Yogyakarta tinggal dirumah sendiri dan Eko juga tinggal di rumah neneknya, kalau aku dan Maman ngekost kebetulan kost aku dan Maman berdekatan jadi nyari perlengkapannya bareng.

      Keesokan harinya setelah sholat Asar kami pun berangkat ke kampus untuk mengambil kaos warna orange, kaos untuk pelantikan. Semua teman-temanku kumpul dikost aku dan jalan kaki dengan gagahnya seorang pendaki berjalan menuju kampus..hee..hee..kebetulan ada suatu hal yang harus disampaikan juga oleh kakak senior di kampus sebelum pemberangkatan. Ketika pembagian kaos kebetulan kaosnya cuma ada tiga, untuk yang dua orang lagi nanti ya soalnya kakak seniornya belum datang semua, ujar kak Bita senior di ERAPALA. Tadinya untuk yang tidak memakai kaos aku dan Maman dulu, nanti ketika kakak senior datang baru dikasih kaosnya. Tapi ketika kaos yang dipakai mas Anto tidak muat karena mas Anto orangnya agak gemuk..hee..hee.. jadi Maman yang memakainya. Aku dan mas Anto belum memakainya dan diantara kelima orang yang mau dilantik hanya aku dan mas Anto yang tidak memakai kaos. Sebelum pemberangkatan kami semua berdoa supaya selamat sampai tujuan dan tidak lupa foto,,hee,hee..

Yang namanya narsis untuk pemuda sekarang mah tidak ketinggalan, apalagi kakak seniornya yang satu ini yang mempunyai kamera lho..heheJ setelah kami foto lalu kami lanjutkan untuk menunggu bis di depan kampus untuk menuju terminal, dari terminal naik bis lagi menuju patuk, dari patuk sampai puncak gunung itu sekitar 7 km lebih kami berjalan kaki.

    Tenda dome merupakan peralatan yang penting untuk mendaki. Kebetulan ketika pemberangkatan tenda dome aku yang membawanya, dan tak lama juga bis yang kami tunggu ada juga. Tenda yang aku bawa barangnya agak berat jadi ketika di bis aku simpan di bangku mobil yang jaraknya agak jauh dari tempat dudukku, aku di bangku deretan sebelan kanan dan tenda dome aku simpan disamping bangku deretan sebelah kiri tepatnya di depan pintu bis bagian belakang. Ketika diperjalan aku dan teman-teman santai sambil istirahat, ada juga yang tidur. Ketika mau sampai aku pun kaget karena takut terbawa naik lagi oleh mobil bis itu. Kami berlima pun turun dari bis lalu mencari bis jalur wonosari untuk sampai daerah patuk. Ketika di dalam bis aku tidak nyaman sekali karena sesak banyak penumpangnya, lagipula aku dan teman-teman membawa tas ransel yang ukurannya lumayan besar.

      Perjalanan ke daerah patuk lumayan lama, jadi aku dan teman-teman berusaha tidur dan istirahat di bis meskipun kondisi yang tidak nyaman. Mas Anto kebetulan sudah paham jalan menuju patuk dan waktu itu mas Anto bicara bentar lagi sampai. Tak lama Hammad juga berkata “Tendanya dimana ?”, aku denga kagetnya menjawab “Astagfirullohalazim, dimana ya coba dilihat dibelakang ada tidak. Ketika dilihat oleh mas Anto dibelakang ternyata tidak ada, aku berfikir sepertinya tertinggal di bis yang pertama kami naik menuju terminal. Semua terlihat kaget dan panik apalagi Eko yang tadiny tidur ketika bangun mendengan langsung kaget. Kalau Maman cuek karena dia sedang tidur dan kepalanya pusing.

     Ketika tenda dome ketinggalan di mobil bis aku merasa sedih gelisah dan pokoknya perasaanku tidak nyaman. Aku bicara kepada diriku sendiri “Kenapa aku ceroboh untuk menyimpan suatu barang, dimana barang itu sangat penting. Gara-gara aku semuanya kena imbasnya”.  Ketika turun di daerah patuk tak disangka dan kebetulan kak Bita senior kami tidak sengaja ketika kami hendak naik bis dari kampus, kak Bita memoto bisnya dan kebetulan ada nomer bisnya disebelah pintu depan tetapi plat nomernya tidak terlihat. Mas Anto dan Hammad pun segera kembali ke terminal menggunakan motor kak Bita untuk mengecek tenda dome yang tertinggal di bis. Aku berdoa supaya bisa ketemu tenda domenya, waktu menunjukan saatnya menunaikan ibadah sholat magrib, tenda dome pun belum juga ditemukan. Perasaan aku sudah tidak karuan sampai-sampai aku berfikir untuk berhenti tidak melanjutkan mendaki, aku tidak berkata apa-apa kepada teman-temanku aku hanya diam dan diam. Tetapi setelah sholat isya aku berubah pikiran lagi. Aku tidak boleh seperti ini, sebelumnya aku sudah berniat untuk ikut ERAPALA bahkan dari semenjak aku belum kuliah pun sudah berniat untuk ikut menjadi anak MAPALA ketika dikampus nanti, jadi apapun yang terjadi aku harus menghadapinya. Aku jadi inget apa yang telah aku katakan waktu itu “Apapun yang aku pilih pasti nantinya ada ada resikonya, aku harus hadapi dan hadapi”.

     Rintik hujan pun turun seolah-olah cuaca tidak mendukung untuk kami mendaki, tapi pendakian tetap dilakukan meskipun hujan. Sekitar pukul 20.00 WIB kami siap-siap untuk berangkat dan sebelumnya tas kami semua dibuka dan dikeluarkan semua isinya untuk dicek apakah sudah lengkap apa belum perlengkapannya. Kak Nazar sebagai senior kami berkata “Untuk setiap perlengkapan yang tidak ada dikenakan sangsi yaitu pus’ap”. Dan ternyata Hammad dan mas Anto terkena sangsi. Setelah itu semua beres lalu kami siap untuk jalan menuju gunung, ketika diperjalanan aku tetap kepikiran tentang tenda dume yang aku tinggalkan dengan tidak sengajanya di bis tadi. Diperjalanan aku bicara kepada Hammad, “Mad aku jadi tidak enak ke kamu soal tenda, itukan yang pinjem kamu?”, Hammad pun langsung menjawab “tenang saja itu yang nyewa juga menggunakan KTPku dan kamu tidak usah khawatir itu mah urusan nanti saja, pokoknya kita tanggung bersama saja”. 

    Ketika Hammad bicara begitu hatiku mulai terasa tenang sedikit. Diperjalanan aku berusaha bercanda dengan teman-teman. Rintik hujan semakin deras membasahi tubuhku, kami pun berhenti sejenak untuk mengeluarkan mantel yang tersimpan di dalam ransel untuk disimpan diluar supaya mudah dibawanya. Waktu ke waktu diperjalanan kami merasakan capek dan berhenti sejenak di pos ronda sambil minum air dan memakan gula merah supaya energy yang telah kita gunakan bisa pulih kembali dengan makan gula merah. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan, sekitar beberapa puluh langkah ternyata di depan ada warung makan kami pun langsung segera mampir untuk beli teh anget untuk mengahangatkan badan. Dan tak lupa membeli telur asin untuk makan nanti di puncak gunung.

     Perjalanan kami lanjutkan lagi sampai melewati beberapa tower TV ada tower Indosiar, ANTV dan masih banyak yang lainnya. Dan ketika di dekat tower mas Anto berkata “Coba kalian membawa HP yang ada TVnya, pasti gelombangnya tertangkap semua”, aku pun langsung berkata kepada Maman, “Man coba tadi bawa HP mito kamu untk melihat TV di puncak..hehe.” HPnya juga rusak ndi”, ujar maman kepadaku.

     Sekitar 1 kilo lagi kami sampai bascame, rasanya sudah tidak sabar karena merasakan pegalnya kaki ketika berjalan. Ketika kami sampai bascame kami disuruh membuka ransel untuk mengeluarkan semua peralatan masak dan makanan yang ada didalam ransel, jangan sampai ada yang tersisa dan setiap satu makanan atau barang yang tersisa mendapatkan satu seri pus’ap. Kebetulan kami berlima mendapatkan hukuman karena makanan kami masih ada yang tersisa didalam ransel. Aku mendapatkan hukuman 4 seri atau 40 pus’ap, Maman mendapatkan 1 seri atau 10 kali pus’ap, Eko mendapatkan 14 seri atau 140 pus’ap, mas Anto mendapatkan 15 seri atau 150 kali pus’ap dan yang satu lagi Hammad dia malahan menghitung semua barang yang ada di dalam tas ranselnya dia, padahal yang disuruh itu menghitung yang belum keluar dari tas ransel tersebut. Ketika Hammad menghitung jumlahnya 29 dan kakak seniornya pun kurang teliti karena tidak dikalikan, harusnya kalau dikaliakan itu sebanyak 290 seri. Dari setiap teman-teman yang mendapatkan hukuman rasanya tidak adil karena ada yang mendapatkan hukuman sampai ratusan kali pus’ap dan ada juga yang mendapatkan puluhan klai pus’ap. Jadi waktu itu kami diberi kesempatan untuk merundingkan hukuman itu gimana caranya supaya bisa menjadi ringan untuk kami berlima. Dan akhirnya kami berlima memutuskan untuk dibagi rata dan kira-kira setiap orang kebagian 80 pus’ap. Ketika malah itu juga langsung pus’ap, tetapi ketika pus’ap sudah satu seri setengah tiba-tiba badan aku lemas dan tidak kuat untuk melakukan pus’ap dan aku yakin ini semua gara-gara pikiran aku memikirkan tenda dome yang tertinggal di bis karena kalau tidak ketemu nantinya bakal harus menggantinya dengan uang.

      Tak lama kemudia kakak senior menghampiriku dan bertanya siapa namamu ? aku pun menjawabnya “Encep” aku ditanya lagi “kenapa kamu, sakit atau gimana, ? kalau sakit bilang saja jangan sok jagoan sok kuat kalau sakit bilang saja sakit”. Waktu itu aku tidak bisa berkata apa-apa aku langsung saja berdiri dan duduk rasanya kepala ini pusing dan badan pun terasa panas dan sakit. Teman-temanku melanjutkan pus’apnya dan aku tidak karena aku tidak kuat untuk melakukannya, tetapi tidak begitu saja aku akan pus’ap besok pagi dan aku berjanji pada diriku sendiri pasti aku besok bisa melakukannya. Teman-temanku pun kelihatan kecapean sehingga pus’apnya tidak diselesaikan dimalam itu juga dan diselsaikan besok pagi dengan masing-masing 40 pus’ap dan cuma aku yang berbeda aku mendapatkan 60 pus’ap, tapi aku terima karena memang aku sakit dimalam itu. Ketika aku duduk karena tidak kuat untuk pus’ap aku bertanya-tanya siapa orang yang tadi menghukum kami untuk pus’ap, mukanya asing dan aku baru pertama kalinya melihat, mungkin itu alumni ERAPALA.

     Setelah selesai kami semua disuruh memasukan peralatan, makanan, dan pakaian ke dalam tas ransel, aku kebetulan selesai pertama memasukan peralatannya ke dalam tas dan aku langsung saja menggendongnya. Tak lama mas Amru selaku kakak senior kami menegurku “siapa yang menyuruh digendong tasnya, simpan kembali”, aku dan teman-teman tidak ada yang menjawab. Lalu semuanya disuruh memakai tas dengan cara yang benar sehiingga tidak seperti memakai tas pada umumnya, dan ternyata tidak ada yang bisa memakai tasnya karena setahu aku belum pernah diajarkan sebelumnya ketika diksar ruang. Ketika diksar ruang cuma diajarkan bagaimana cara menata peralatan atau makanan ke dalam tas sehingga nantinya enak ketika digendong, tetapi aku suka salah ketika menata pakaian di dalam tas. Mas Amru berkata “sekarang aku ajarkan bagaimana cara menggendong tas ransel yang baik dan benar, tapi ingat janga sampai lupa lagi harus diingat-ingat?”. Setelah itu juga aku dan teman-teman bisa melakukannya.

      Setelah tas digendong kami kembali lagi ke pendopo sambil istirahat, ketika dipendopo semua barang-barang dikeluarkan lagi dari tas, tidak ada yang tersisa semuanya dikeluarkan. Kami berlima pun mengeluarkan semua barang-barang yang ada dalam tas termasuk makanan. Padalah ketika aku belanja sama Maman aku membeli kacang kadelai kesukaanku dan Susu kotak dan masih banyak lagi yang lainnya, tetapi ketika malam itu di pendopo semua makanan kami dibawa oleh kakak senior. Dalam hariku berkata “Kok diambil semua ya, tapi sudahlah memang ini sudah peraturannya kali ya”.

      Lalu dilanjutkan sedikit materi tentang perjalanan oleh mas Amru, setelah itu juga ada sekitik materi dan sebenarnya tidak hanya materi tetapi nasehat untuk kami berlima. Ketika kakak senior member kesempatan untuk bertanya aku saat itu belum ada pertanyaan sama sekali. Lalu kakak senior yang tadi menghukum kami untuk pus’ap bicara “kenapa kalian tidak bertanya nama saya, saya itu siapa asalnya dari mana”. Aku pun langsung ingat kenapa aku tidak bertanya namanya siapa ya, tapi sudahlah nanti juga pasti tahu namanya siapa.

       Setelah itu kami berlima dikasih makan, tetapi cuma dikasih nasi kucing satu bungkus dan tempe goring satu lalu minumnya kurang lebih setengah botol untuk berlima. Ketika itu aku tidak marah, aku merasa ini semua bisa mengajarkan aku bagaimana cara berbagi meskipun sedikit. Setelah itu kirain kami disuruh langsung istirahat, tetapi kami langsung manjat ke atas gunung dan istirahat pun ketika kami sampai diatas gunung tetapi belum sampai ke puncaknya. Tapi kami istirahat terlebih dahulu karena waktu sudah malam dan disaat itu juga aku merasa ingin sekali buang air kecil tetapi aku menahannya karena aku sangat bingun mau buang air kecil dimana, dan aku tidak mau sembarangan.

     Aku tetap menahannya dan terus kami disuruh membuat bivak atau tempat tidur seadanya dengan menggunakan mantel yang telah kami bawa, seharusnya menggunakan tenda dome, tetapi berhubung tenda domenya ketinggalan olehku di bis. Jadi kami membuat bivak dan di suruh lapor kalau bivak itu sudah jadi. Tetapi ketika kami selesai membuat bivak tidak ada satu orang pun yang ingat untuk lapor kepada kakak senior bahwa bivak kami sudah selesai begitupula ketua kami mas Anto tidak ingat sama sekali.

      Ketika kami tidur susah sekali rasanya tidur nyenyak, disaat aku meu terlelap dalam tidur tiba-tiba ada sinar yang tepat berada disampingku menyala, kebetulan mukaku tertutup topi, dan tak lama kemudian sinar itu semakin mendekat dan berbunyi “ckrekk”, ternyata itu suara kamera.hehe..

Ini dia fotoku ketika aku tertidur lelap, aku tidak tahu ketika tidur ternyata posisi tanganku seperti ini dan kelihatannya kau sangat lelah..hee..hee

Encep Andi Nugraha

Kalau ini Hammad Mushofa, dia tidur dengan menggunakan mantel atau jas hujan, tetapi cara dia tidur seperti dia tidak ada, seolah-olah seperti mantel tanpa ada orangnya.

Ini si Paijo yang terlihat sangat nyenyak tidurna dengan kepala berpaling dariku..hehe.

apa tidak sakit itu kepalanya posisinya seperti itu.

Ini dia Eko Mardiyanto tidur menggunakan selimut mantel anti basah..hehe..

 Ini adalah ketua kami, mas Anto, dia malah malu-malu ketika tidur, dia tidak mau menampakan mukannya karena belum mandi..hee..hee

     Setelah itu aku berusaha untuk tidur karena besok harus mendaki ke puncak gunung dan pokoknya aku harus membayar hutang pus’ap ku 6 seri. Aku pun akhirnya bisas tidur dengan nyenyak tapi sayang tidurku tidak lama, kira-kira pukul 02.30 kami semua dibangunkan untuk packing dan membongkar bivak. Lalu kami dikumpukan dengan keadaan siap. Disitu kami ditanya kenapa semalam ketika kalian sudah membuat bivak tidak ada satu pun yang lapor, padahal kami (kakak senior) menunggu sampai-sampai mas Fahmi menanyakan “gimana anak-anak sudah ada yang lapor belum ?”, saya pun menjawab belum, ujar mas Nazar.

     Kami semua akhirnya mendapatkan hukuman gara-gara ketika selesai membuat bivak tidak ada yang lapor, kami mendapatkan pilihan hukuman, mau pus’ap atau skotjump. Kami pun memilih untuk skotjump sebanyak 2 seri.

Ini foto ketika kami skotjump, rasanya cape dan lelah sekali. Ngantuk pun terasa hilang seketika..he..hee

      Padahal aku sangat pengen sekali buang air kecil, tapi bingung dimana, dan aku lagi-lagi menahannya. Lalu aku melanjutkan perjalanan untuk sampai puncak, ketika diperjalanan terasa capek sekali aku dan teman-teman pun istirahat sejenak disetiap pos. Tapi kakak senior bilang terus jalan jangan kebanyakan berhenti, dan kami pun terus melanjutkan perjalanan mendaki.

     Ketika sampai puncak pun waktu sudah menunjukan untuk sholat subuh, kami segera untuk sholat subuh, kebetulan untuk wudlu susah karena tidak ada air. Ada air tetapi harus turun kebawah, akhirnya aku dan teman-teman memilih untuk tayamum tetapi sahabatku yang satu ini sebut saja Maman dia malah berbeda dengan yang lainnya dia memilih wudlu dengana air yang ada di rumpul dengan membasuhkan air ke seluruh muka, tangan dan kaki. Ketika sudah selesai Maman pun merasakan gatal karena sudah wudlu dengan air yang berada dirumput.

      Setelah itu kami melanjutkan untuk masak, masak nasi dan mie saja. Meskipun kami masak dengan seadanya kami tetap senang karena disitulah kebersamaan kami tetap ada.




Dengan lahapnya Maman makan sampai-sampai yang tadinya ngantuk pun menjadi hilang..hee..hee

     Setelah kami selesai makan kami pun dipanggil untuk kumpul, dibariskan dan ternyata kami disuruh untuk ,pemanasan karena habis mendaki perjalanan jauh. Setelah pemanasan kami pun dikasih hiburan yaitu suruh joget dengan lagu yang diputar oleh kakak senior. Aku rasanya malu karena aku tidak bisa joget tetapi kakak senior yang menghukum aku semalam pus’ap bicara awas kalau tidak sampe joget nanti hukuman pus’apnya ditambah. Makan aku pun dengan rasa malunya tetap saja melakukan joget dari pada nantinya nambah untuk pus’ap. Kakak senior yang semalam menghukum aku pun bicara lagi “silahkan sekarang bersenang-senang tetapi jangan sampai nanti bisa bersenang-senang”.

     Lalu kami ditagih untuk mencicil pus’up. Setelah pus’up kami melantukan ke puncak gunung yang satu lagi ketika sampai dipuncak gunung hal yang pertama aku lakukan sama Eko dan Maman yaitu foto-foto..hee

Lalu dilanjutkan pembekalan materi oleh mas Fahmi tentang survival kids, kebetulan materi yang nantinya bakal aku sampaikan tentang survival. Aku sangat bersyukur dengan materi yang telah disampaikan oleh mas Fahmi karena ketika aku banyak pikiran gara-gara tenda dome yang aku tinggalkan. Aku menjadi tidak fokus terutama kepada materi, tapi untungnya mas Fahmi membahas materi tentang survival.

     Ketika mas Fahmi membahas tentang survival, kami pun ditanya satu-persatu tentang pengalaman apakah pernah mendaki dan materi apa saja yang telah dipelajari. Setelah semuanya menjawab tinggal aku yang menjawab, aku sendiri untuk pengalaman mendaki sudah pernah tetapi itu juga tidak digunung yang sering di dagi, melainkan gunung yang jaraknya dekat SMA ku dulu. Dan untuk materi aku sendiri mengambil dari buku, jadi cuma membaca saja.

      Setelah itu tinggal momen yang ditunggu-tunggu yaitu penyampaian materi oleh kami berlima, aku membahas tentang survival, Eko membahas tentang materi goa, mas Anto, Hammad dan Maman itu menyampaikan materi dengan materi yang sama yaitu tentang rimba gunung. Kebetulan aku kebagian giliran terakhir untuk menyampaikan materi, ketika aku hendak mengucapkan salam lalu kakak senior yang semalam menghukum kami pus’ap mengucapkan “Wa’alaikumsalam”, padahal aku belum juga mengucapkan salam..he.he.. sepertinya becanda ini kakak senior. Ketika mas Amru sedang bicara dengan kakak senior yang menghukum kami pus’ap memanggil namanya mas Anton. Dalam hatiku apakah kakak senior yang telah menghukumku pus’ap namanya mas Anton dan ternyata benar. Lalu setelah aku menyampaikan materi, mas Anton bilang “semalam ketika kamu sakit teman-temanmu menolongmu, ucapkan terima kasih donk sama teman-temanmu”.

     Lalu aku langsung bicara “Sebelumnya saya minta maaf atas kejadian kemarin tenda dome yang tertinggal gara-gara satu orang semuanya kena imbasnya, dan aku berterima kasih juga kepada Maman, Eko, Hammad, mas Anto karena telah menolngku ketika aku sakit dan menolong aku ketika aku membuat bisak semalam kalau tidak ada teman-teman mungkin aku tidak secepat itu membuat bivaknya”. Lalu tak lupa juga aku ucapkan kepada kakak senior karena sampai sudah membantu saya ketika saya sakit.

 

 Setelah itu kami turun dari puncak itu, tapi sebelum turun kami disuruh mencicil lagi hutang pus’apnya 2 seri, tetapi aku 4 seri karena aku yang terbanyak mempunyai hutang pus’apnya..hee.hee.

Lalu kami semua turun tetapi ke tempat yang agak teduh untuk penyampaian materi oleh mas Anton, tidak hanya itu mas Anton juga menyampai materi tentang  P3 yang dulunya P3K, pertolongan pertama pada kecelakaan.

Disitu juga dipraktekan bagaimana cara menolong orang ketika ada yang kecelakaan, bagaimana mengecek orang ketika kecelakaan apakah denyut nadinya masih hidup apakah enggak. Kebetulan mas Anton membutuhkan orang untuk praktek, Hammad pun menjadi orang untuk prakteknya sambil tiduran, sepertinya enak itu tidur..hehe..hee.

      Paijo, itulah kata-kata yang selalu di ucapkan oleh Maman, entah itu diluar jam kuliah ataupun diluar jam kuliah, bahkan ketika mendaki pun kata-kata paijo diucapkan. Ketika mas Anton sedang berbicara tiba-tiba Maman dengan konyolnya mengucapkan kata Paijo. Nah dari situ Maman dijuluki Paijo oleh mas Anton dan oleh kakak senior semuanya.

     Lalu setelah itu kami dilantukan untuk kembali ke tempat dimana ketika kami masak. Ketika kami diperjalanan tiba-tiba tali sepatuku lepas dan terakhir jalan aku dan Maman, setelah tali sepatu aku diperbaiki Maman bilang ini buat foto-foto sepertinya bagus, aku dan Mamam pun foto-toto dulu..hehe..nasrsis. Karena aku dan Maman foto-foto dulu jadi tertinggal oleh teman-temanku yang lainnya. Ketika sampai ditempat dimana kami disuruh kumpul tiba-tiba kami semua dimarahin oleh mas Nazar dan langsung bicara “Kalian itu gimana sih, jalan saja tidak bareng kalian itu satu keluarga tidak boleh ada yang tertinggal harus kompak dan kamu sebagai ketua tidak boleh egois meninggalkan anggotanya”, setelah itu aku berkata dalam hari “astagfirullahalazim, gara-gara aku foto-foto dulu tadi sama Maman kami kena hukuman semuanya”.


 

Nah gara-gara foto ini kami semua di hukum, padahal yang salah aku dan Maman, maafin kita yang sahabat, lain kali aku dan Maman tidak mengulanginya lagi.

      Lalu pus’ap dan pus’ap lagi yang kita dapat, terus mas Amru datang dan berkata “kalian itu keluarga jangan sampe ada yang tertinggal harus tetap bersama”. Perkataan itu hampir sama dengan mas Nazar. Dari situ kami mendapatkan pelajaran untuk kedepannya supaya kami tidak egois, kami harus saling bersama di saat keadaan seperti apapun, mau ada yang sakit atau tidak kami harus tetap bersama.

Ini adalah foto ketika kami sedang menyanyikan lagu Indonesia Raya, ketika pertama nyanyi pun terlihat kami tidak hafal. Lalu di ulangi dan akhirnya bisa.
 

 Inilah foto ketika aku dan teman-teman sebelum disuruh membuka baju.

         Setelah itu badanku terasa bergetar dan tidak enak, tiba-tiba mas Amru bilang “kalian panas tidak” ? kami diam saja tidak menjawab, kemudian bertanya lagi. “Kalian panas tidak ?”. Lalu kami pun menjawab “panas”. mas Amru langsung menyuruh kami untuk membuka baju supaya tidak panas, kami pun berlima membuka baju.  Setelah aku membuka baju sekitar 5 menit lebih badanku terasa semakin dingin, karena aku kurang enak badan.

     Tadinya aku tidak mau bilang aku ingin memakai baju saja, karena aku dingin. Tetapi aku ingat nasehat mas Anton “kalau sakit bilang saja, jangan sok jagoan”. Akhirnya aku bilang  kepada mas Nazar “Mas, boleh aku memakai baju, badanku terasa dingin ?”. Akhirnya aku memakai baju tetapi mas Amru melarang aku untuk memakai kaos dalam, jadi aku cuma memakai kaos oblong langsung.

 
 

Inilah foto kami berlima, hanya aku yang menggunakan kaos, maafkan aku sahabat, kalau aku tidak terasa dingin aku pasti bakal seperti kalian. Tetapi waktu itu badanku terasa dingin.

     Ketika kami berdiri kami disuruh mencari air di sekitar kami berada sebanyak tutup aqua oleh kakak senior. Kami mencari ari dari embun yang masih ada di rumput, dan kami diberi waktu untuk menentukan mau berapa lama mencari air sebanyak tutup botol ini. Mas Anto bilang 40 menit, ada yang 30 menit. Dari setiap yang kami lontarkan kakak senior tidak aja yang setuju dan penawaran kami turun dan semakin turun hingga terakhir tiga menit untuk mencari air itu dan ketika jawaban tiga menit yang bilang hanya Maman, aku dan bertiga teman yang lainnya diam saja. Karena aku dan ketiga temanku diam jadi mendapatkan kurangan waktu sehingga mendapatkan waktu hanya satu menit.

      Lalu Maman disuruh mencari air itu sendirian karena dengan berbeda waktunya dan setelah selesai ternyata Maman hanya sedikit mendapatkan air itu. Karena memang di siang bolong itu tidak terlalau banyak air yang ada di rumput. Setelah itu giliran aku dan ketiga temanku yang mendapatkan jatah waktu satu menit. Aku langsung berlari  untuk mencari air dan ternyata susah mencari di setiap rumput yang ada tidak terlalu banyak. Setelah selesai aku pun tidak banyak mendapatkan airnya begitu pula teman-temanku.

      Setelah kami disuruh tiarap si tanah, dengan panas teriknya matahari kami tetap semangat. Ketika kami tiarap kami nantinya disuruh mencari syal berwarna biru. Dan ketika pengambilan syal itu pun kami masih dengan posisi tiarap atau terngkurep. Ketika kami sedang tiarap tiba mas Anton menjuluki kami berlima dengan nama yang aneh. Aku sendiri mendapatkan julukan EMAK, Eko mendapat julukan SIDUL, Hammad mendapat julukan PLONGO, mas Anto mendapat julukan SI GEMBUL dan untuk Maman sendiri dia tetap dijuluki PAIJO sebagaimana kata-kata konyol yang sering dia sebutkan…hee..hee

      Padahal nama EMAK sendiri di dalam keluarga saya itu artinya Nenek atau Ibu. Berarti aku cewek donx ?.. hehe..he. Ya tidak lah, itu hanya julukan ketika aku dan teman-teman pelantikan menjadi Anggota Muda di ERAPALA sendiri. Ketika kami mau mengambil syal biru itu ternyata diacak tergantung kakak senior, dan ternyata yang pertama mencari itu PLONGO alias Hammad Mushofa. Ketika Hammad mencari syal biru itu ternyata tidak lama. Aku berfikir sambl tengkurep “apakah mudah ya mencari syal biru itu, kok Hammad sendiri begitu cepat mendapatkannya”. Aku berfikir lagi, selanjutnya giliran siapa ya yang mencari syal biru.

     Ternyata selanjutnya yang mencari syal itu tidak ditentukan oleh kakak senior, melainkan oleh orang yang sesudah mencari syal biru itu. Jadi selantutnya tergantung Hammad yang memilih, aku santai saja dulu sambil istirahat. Dan tak lama kemudia Hammad mengcapkan kata EMAK yaitu aku, dan aku pun langsunglari untuk mencari syal biru, sebelumnya aku pun lapor dan minta izin untuk mencari syal biru. Ternyata susah sekali mencarinya aku tidak menemukan syal biru itu padahal sudah hampir lima kali lebih aku bolak bali mencari syal itu, sampai-sampai mas Anton berkata “Mak, Emak, cepatlah kau mencari syalnya lama kali, kasian nih temanmu kepanasan”. Aku pun semakin semangat untuk mencarinya.

      Ketika aku kesulitan mencari syal, ada dua kakak senior mendekati suatu pohon, aku pun berfikir “apa mungkin syalnya ada di pohon itu”. Aku langsung mendekati pohon itu dan ternyata aku mendapatkan syal biru itu, lalau aku lapor kembali kepada mas Nazar. Setelah itu aku kembali ke barisan untuk tiarap lagi dan ketika aku mau sampai tempat tiarap, aku terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi..hehe (malahan nyanyi).. Maksudnya waktu itu aku terjatuh dan terpelesaet, tetapi aku langsung cepat berdiri.

      Setelah itu aku disuruh memilih salah satu teman untuk mencari syal biru, aku tak berfikir lama aku langsung pilih PAIJO yaitu Maman. Maman pun langsung berdiri dan berlari untuk mencari syal biru. Maman pun ternyata lebih lama dari aku. Setelah berhasil menemukan syal biru itu Maman langsung tunjuk GEMBUL alias mas Anto untuk mencari syal biru. Dan yang terakhir mencari syal biru adalah SIDUL yang ditunjuk oleh GEMBUL, sebenarnya kalau tidak di tunjuk juga pasti SIDUL akan langsung mencari syalnya karena dia sebagai orang terakhir diantara kami berlima untuk mencari syal biru.

      Ketika SIDUL mencari syal ternyata lebih lama dibantung aku dan teman-temannya, sampai-sampai mas Anton pun bilang suruh cepat lagi karena temannya menunggu terlalau lama. Aku dan teman-teman yang menunggu selesainya SIDUL mencari syal biru sambil ditanya sama kakak senior panas tidak, kalau panas kami disiram air kepalanya dan kalau tidak panas karpet penutup tubuhnya akan dilepas dari badan kami semua. Dan waktu itu mas Anto bilang tidak panas, langusung saja itu penutup badannya langsung di ambil.

      Kemudian kakak senior pun berkata lagi siapa yang haus, aku pun diam saja dan memang aku tidak haus, tak lama kemudian Hammad bilang haus. Lalu dikasih minum oleh kakak senior, di pikiranku rasanya asik minum karena bisa menghilangkan rasa haus dengan segelas air. Ketika aku melihat Hammad minum ternyata dia cuma dikasih minum dengan tutup aqua saja. Dan aku bilang panas dan aku langsung disiram kepalanya menggunakan air, terasa dingin meresap kepala tetapi sayangnya hanya sedikit air yang disramkan..hee.hee.

     Setelah itu kakak senior bertanya kepada kami semua kenapa EMAK kelihatannya diam saja, kenapa kalian tidak menghiburnya. Salah satu dari temanku kebanyakan menjawab karena aku orangnya pendiam dan merasa bersalah karen tenda dome yang aku bawa ketinggalan di bis. Memang aku sampai saat itu kepikiran terus sama tenda dome itu, tapi aku terus berdoa dalam hari kepada Allah supaya nanti setelah selesai pelantikan tenda dome itu bisa ketemu lagi. Dan kami diberi waktu untuk diskusi menyelesaikan supaya aku tidak kepikiran terus tenda dome itu. Mas Anto bilang “sudahlah jangan terlalu dipikran nanti pasti ketemu kok, kalau tidak ketemu ya gampang kita bicara sama orang yang menyewakan tenda dome itu bagaimana baiknya, kalau kita harus pakai uang tidak kamu sendiri kok yang menanggung” dan Eko juga bilang “Santai saja ini Yogyakarta kok, pasti ketemu”. Dari situ aku merasa lebih nyaman dari sebelumnya dan aku tidak terlalu memikirkannya dan aku yakin pasti setelah kegiatan ini selesai tenda dome itu bakalan ketemu.

      Setelah tu kami disuruh makan oleh kakak senior, kami di kasih makan di tempat makan yang biasa disebut misting isinya pun tidak ada nasinya cuma sekedar mie goreng di campur telur asin dan minumnya sekotak susu yang waktu itu aku dan Maman beli untuk persyaratan.  Dan ketika susu itu diminum ternyata isinya bukan susu melainkan yakult yang Eko bawa mungkin dimaskan ke kotak susu itu.

     Kami berlima harus menghabiskan makan itu, setelah habis kami pun kekurangan air untuk minum, mas Anto sebagai ketua bilang kepada kaka senior untuk minta air lagi dan ternyata dikasih dan kakak senior bilang kesini saja kalau mau. mas Anto dan Eko pun langsung lari dan ketika sampai ada syaratnya kalau mau minum ini harus pus’ap dulu dua seri. Pus’ap itu dibagi rata menjadi satu seri satu seri antara Eko dan mas Anto.

      Setelah makan selesai pun mas Anton menasehati kami untuk lebih baik lagi untuk kedapannya, lebih bertanggun jawab dan harus lebih kompak karena kalian itu satu keluarga. Lalau mas Anton mengumpulkan kakak senior semuanya untuk maju kedepan kami untuk pus’ap dua seri dan ternyata mas Anton juga ikut pus’ap. Dalam hari aku bicara “apa maksudnya kakak senior pus’ap dihadapan kita semua”. 

      Mas Anton memberitahu kami kalau kakak senior pus’ap itu tandanya kalian diterima sebagai Anggota Biru. Lalu kami pun diberu ucapan oleh mas Amru sebagai ketua di ERAPA. Mas Anton bicara kembali “Igat ERAPALA ada ditangan kalian, kalian harus lebih banyak belajar untuk nantinya ketika ada anak ERAPALA baru supaya bisa menjelaskan apa itu ERAPA dan materi-materinya.

     Setelah semuanya selesai kami pun tidak langsung pulang, kami tidak lupa untuk foto-foto dulu dengan kakak senior.

 
 
 
 
***
 
 Ini adalah foto kakak-kakak senior sepertinya mereka sedang membuat makanan yang waktu itu kasih kan untuk aku dan keempat temanku untuk makan sebelum turun mendaki.
 Kalau yang ini juga kakak senior yang sebelah kiri itu namanya mas Nazar yang tengah mas Anton dan yang paing kanan namanya mas Fahmi.Aku ucapkan terima kasih kepada semua kakak senior ERAPALA baik yang masih kuliah ataupun yang sudah menjadii alumni. Terimakasih juga atas semua ilmu yang telah diberikan kepada kami semua. Insyallah kami akan bertanggung jawab atas semua apa yang telah diberikan.
 
ean
  
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s