Renungan : Kenapa Kita Harus Mati ?

Kenapa Kita Harus Mati?

Berapa lama pantasnya seorang manusia hidup? Lima puluh, 70, 100 tahun? Semakin panjang usia seseorang dianggap semakin bagus, tentu kalau ia hidup dengan kondisi sehat. Karena itu usaha manusia di dunia ini banyak diarahkan untuk mencapai umur panjang dan kondisi yang sehat. Bahkan salah satu ukuran maju tidaknya suatu negara diukur dari angka rata-rata harapan hidup warganya. Kabar baiknya, sering usaha manusia untuk memperpanjang umur itu berhasil. Manusia saat ini bisa dengan mudah mengatasi penyakit tetanus yang seratusan tahun yang lalu mungkin dapat mengancam jiwa. Kecanggihan tehnologi kedokteran mampu membuat saluran arteri darah yang mampet jadi lancar lagi misalnya. Dan masih banyak lagi pencapaian manusia supaya bisa hidup makin panjang umur dan sehat. Kabar buruknya, apapun kemajuan yang dibuat manusia sebetulnya relatif sementara sifatnya, dan hanya bersifat menunda kematian.

Banyak bugs yang terdapat di dalam tubuh manusia dan di alam sekitar kita, yang menyebabkan usaha manusia meraih umur panjang tampak tidak terlalu banyak berguna. Sejumlah “disain” yang membentuk tubuh kita bisa dikatakan tidak menunjang untuk memberi umur yang lebih panjang. Contoh paling sederhana adalah mekanisme refleksi dari tenggorokan kita. Dalam banyak kasus, semakin banyak lendir di tenggorokan kita, saluran itu secara refleks justru makin mengecil, sehingga muncul kondisi yang sering disebut sebagai sesak nafas dan asma. Padahal idealnya menurut orang awam, semakin banyak lendirnya harusnya salurannya makin diperbesar. Atau lihatlah bagaimana kemampuan sel untuk meregenerasi dirinya terkadang justru menjadi tak terkendali dan berubah menjadi penyakit tumor atau kanker. Padahal di sisi lain fungsi regenerasi sel ini terbatas, ia tak mampu meregenerasi jari yang putus misalnya. Jadi bisa dibilang fungsi regenerasi ini nanggung, ia tidak mampu menggantikan sel-sel yang rusak berat secara sempurna, namun disisi lain dapat berpotensi menjadi penyakit. Dalam dunia pengembangan software, kekurangan-kekurangan yang berasal dari tahap perancangan atau tahap disain seperti itu disebut sebagai bugs. Biasanya bugs diatasi dengan mengeluarkan versi software yang lebih baru. Apakah manusia perlu perbaikan seperti itu, misalnya keluar Human version 3.0? Ataukah kita hanya perlu bersabar menanti proses evolusi hingga jutaan tahun dimasa depan ketika nanti tubuh manusia mengalami perbaikan-perbaikan?

Sementara itu persoalan diluar tubuh manusia juga banyak. Di luar sana bertebaran bakteri dan berbagai macam virus yang siap menghantar berbagai macam penyakit ke dalam tubuh manusia. Orang yang percaya teori penciptaan dapat bertanya, kenapa Tuhan menciptakan bakteri dan virus? Sedangkan orang yang percaya teori evolusi mungkin dapat bertanya; kenapa ada organisme yang dapat berevolusi sedemikian kompleks seperti manusia dan ada yang “mentok” tetap menjadi bakteri?

Dan kenapa manusia tidak compatible dengan sekelompok bakteri, sementara compatible dengan sekelompok bakteri lainnya (ingat minuman fermentasi yang dipromosikan mengandung bakteri bersahabat)? Bukankah proses evolusi dikatakan mengarahkan alam ini kepada the fittest? Kenapa juga proses tersebut tidak mengarah kepada keserasian seluruh mahluk hidup, termasuk manusia dan bakteri dapat hidup berdampingan- dan situasi-situasi lainnya yang mendukung mahluk hidup untuk semakin memperpanjang umurnya- the most fittest condition of all? Bakteri dan virus justru makin berkembang dan makin beragam, seolah-olah berlomba dengan kemampuan manusia untuk menemukan obat pemberantasnya.

Belum lagi kalau kita membicarakan soal gravitasi, energi panas, dingin atau faktor-faktor alam lainnya yang dapat mempercepat kematian manusia. Bahkan tata surya kita peredarannya disusun/tersusun sedemikian rupa sehingga selalu ada bahaya planet kita ini tertabrak oleh meteor atau benda angkasa lainnya.

Seolah semua itu mengarahkan kita pada satu titik, yaitu kematian. Uraian diatas belum cukup, masih ada lagi.

Dari sononya manusia dan mahluk hidup lainnya membutuhkan makanan. Disain dari tubuh manusia, perutnya, pencernaannya, membutuhkan pasokan mahluk hidup lain supaya dapat bertahan hidup. Dari sononya kita seolah sudah dirancang untuk membunuh mahluk hidup lain. Kita ditakdirkan menghisap energi dari mahluk lain supaya bertahan hidup. Kita menjadi sarana agar mahluk lain menemui kematiannya. Dan karena manusia merupakan mahluk paling pintar, ia menjadi mahluk paling banyak membawa kematian bagi mahluk lainnya. Ironisnya, manusia justru seringkali menemui kematian oleh mahluk-mahluk yang paling tidak berakal; bakteri dan virus.

Semua diatas memunculkan pertanyaan abadi, mengapa kita harus mati? Dan lebih lagi, kenapa kita harus hidup pada awalnya? Ini mirip pertanyaan orang bercinta yang patah hati: “Bukan perpisahan yang aku sesali, tapi kenapa kita harus bertemu pada awalnya”. Aku tidak tahu apakah sudah ada yang mampu menyediakan jawabnya secara ilmiah. Sementara sejumlah orang mencoba menawarkan jawabannya secara spiritual atau lewat agama.

Salah satu penjelasan mitologis yang menarik buatku adalah yang tercantum di dalam Kitab Kejadian, Alkitab (kitab suci orang Kristen). Walau mirip dengan yang dijelaskan di Al Quran, namun di Kitab Kejadian ada cerita yang lebih mendetil soal ini. Disitu dikatakan manusia tinggal di Taman Eden dengan bahagia, berkecukupan dan tanpa kesusahan sampai suatu saat mereka diusir dari situ. Mereka diusir karena makan buah dari pohon terlarang, yaitu pohon pengetahuan. Ketika Tuhan tahu bahwa manusia telah makan buah dari pohon pengetahuan, Ia mengusir manusia dari taman itu, dan meletakkan sejumlah Kerubin (sejenis mahluk surgawi namun bukan malaikat) untuk menjaga taman tersebut. Tugas para Kerubin adalah menjaga agar manusia tidak kembali ke taman itu dan tidak makan buah dari pohon terlarang lainnya; pohon kehidupan. Jadi manusia sudah terlanjur makan buah pohon pengetahuan, namun ia tidak dapat makan buah pohon kehidupan.

Dari kisah mitologis diatas kita dapat mengira-ngira sebabnya manusia bisa mengembangkan ilmu pengetahuan sampai pada taraf yang mengagumkan, namun tidak dapat memperoleh hidup yang kekal. Aku tidak tahu mengapa Tuhan mencegah manusia makan buah kehidupan. Bahkan aku juga tidak dapat mencerna kenapa sebelumnya buah pengetahuan juga dilarang. Apakah Tuhan tidak ingin manusia itu berpengetahuan? Dan aku juga lebih tidak mengerti mengapa Tuhan toh meletakkan pohon-pohon itu di Taman Eden jika memang ia tidak menghendaki manusia memakannya?

Tentu penjelasan mitologis diatas tidak banyak membantu untuk saat ini, ia tetaplah penjelasan yang mengandung misteri. Yang bisa kita gali dari mitologi itu ialah orang jaman dulu pun telah memikirkan persoalan kehidupan dan kematian, lengkap dengan pertanyaan mengapa manusia harus hidup sedemikian rupa diatas bumi.

Kira-kira apa yang terjadi kalau manusia sempat makan juga dari pohon kehidupan, apakah ia tidak akan mati-mati? Segala bugs yang ada di dalam tubuhnya akan hilang? Apakah lantas bakteri dan virus akan hilang? Apakah gravitasi atau panas atau energi lainnya tidak akan berpotensi membawa kematian pada manusia? Apakah letak tata surya akan berubah sehingga tidak ada lagi meteorit yang mengancam menabrak bumi? Lucu rasanya jika lantas semua kondisi diatas otomatis berubah hanya karena kita memakan buah kehidupan. Bukan hanya lucu, tapi juga tidak mungkin terjadi. Kalau semua itu tiba-tiba berubah ia akan menentang hukum-hukum alam, hukum-hukum fisika, kimia dan biologi yang ada.

Karena itulah selama kita hidup di dunia fisik ini pertanyaan-pertanyaan untuk mendapatkan hidup kekal tidak akan mampu terjawab, karena dunia fisik mengarah pada kematian.

Hanya satu kunci yang saat ini disediakan oleh penjelasan fisika, yaitu bahwa energi itu kekal, tidak akan habis, ia hanya akan berubah bentuk. Disinilah mungkin penjelasan fisika nyambung dengan penjelasan spiritual, bahwa ada kehidupan sesudah kematian, energi manusia berkonversi menjadi sesuatu yang lain bentuknya. Tidak tahu apa itu, namun yang jelas ia tidak akan habis.

Jadi, mungkin saja kehidupan yang kekal itu ternyata memang ada setelah kita melalui konversi energi, alias ketika kita sudah mati. Keinginan manusia untuk hidup abadi baru bisa terjawab setelah diri kita berkonversi menjadi bentuk energi yang lain, padahal pada saat itu kita mungkin sudah tidak ingin bertanya lagi, atau tepatnya kita sudah merasakan pertanyaan-pertanyaan awal itu tidak cocok lagi untuk ditanyakan.

Semua kesalahan disain, semua tata alam yang telah disebut diatas, yang dikatakan dapat mencegah manusia dari hidup kekal, seakan diarahkan memang agar manusia berkonversi menjadi energi yang lain, atau dalam bahasa agamanya, diarahkan untuk membawa manusia “pulang” kembali ke Tuhan. Sejumlah aliran spiritual dan keagamaan menyatakan bahwa kematian adalah penyatuan kembali manusia dengan Tuhan. Jadi pertanyaan abadi “mengapa kita harus mati?” mungkin bisa kita jawab; “karena kita harus kembali” atau “karena kita harus berkonversi” terserah yang mana yang cocok untuk anda.

Beres? Belum. Jika dikatakan bahwa kematian adalah penyatuan kembali dengan Tuhan, perlu diingatkan disini kalau sejumlah aliran spiritual dan agama juga menyatakan bahwa sepanjang hidupnya manusia juga selalu menyatu dengan Tuhan, ini terungkap melalui istilah “manusia adalah bait Allah”, “manunggaling kawula Gusti” dan sejumlah istilah lainnya menggambarkan penyatuan ini. Jadi, kalau selama hidup kita sudah bersatu dengan Tuhan, mengapa juga kematian diperlukan? Fisika menjelaskan bahwa energi memang kekal, namun bentuk-bentuknya tidak kekal. Energi kinetik dari sebuah kincir angin dapat diubah menjadi energi listrik, yang berubah menjadi bentuk suara dan cahaya yang keluar dari sebuah layar televisi. Mungkin dapat kita katakan kematian mengubah bentuk manusia, dari bentuknya yang fana ini menjadi bentuk yang lain. Jika dalam bentuk fana manusia amat rentan dari kehancuran dan kerusakan, mungkin saja bentuk selanjutnya tidak lagi memiliki hambatan dan kekurangan seperti bentuk lamanya. Jadi, selain kematian membawa kita kembali, ia juga membebaskan kita dari bentuk lama kita yang rentan dan lebih primitif.

Pertanyaan “mengapa kita harus mati” sudah kita coba jawab secara sederhana. Yang tersisa kini adalah pertanyaan lainnya, “mengapa kita harus hidup”, jika pada akhirnya kita harus pulang? Mengapa kita harus menjalani nasib kita di dunia ini dan pada akhirnya toh juga kembali. Anda bisa bantu menjawabnya?

Catatan:
1. Dalam catatan ini selalu diungkapkan hal-hal yang membawa manusia kepada sakit atau kematian. Jangan lupa bahwa banyak hal lainnya yang sebaliknya justru menunjang kehidupan, membantu perkembangan kehidupan pada segala mahluk dan membantu memperpanjang umur manusia.

2. Catatan ini menganggap bahwa setiap kematian –dalam kacamata spiritual- adalah proses kembali ke Tuhan, menyatu dengan Tuhan. Jika dalam tradisi agama penyatuan kembali dengan Tuhan sering disebut dengan “masuk surga”, konsekuensinya tidak ada tempat bagi konsep neraka dalam catatan ini.

Renungan ini saya kutip dari berbagai tulisan yang pernah saya baca, semoga bermanfaat. aamiin.

Pejuang Daud

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s