KU KATAKAN JUJUR SAAT ITU JUGA

Jujur, kata yang sangat mudah diucapkan,

tetapi susah untuk dikerjakan.

Semua orang bisa mengatakan jujur

 tetapi belum tentu perilakunya benar-benar jujur atau tidak.

       Apakah teman-teman percaya dengan tulisan di atas. Jujur itu  memang sejak kita kecil juga sering di ajarkan, terutama oleh orang tua kita sendiri. Tetapi ketika kita menemui teman atau lingkungan baru. Pasti kita mendapatkan hal yang berbeda, contohnya teman. Tidak semua teman itu baik, orang tua selalu berkata supaya kita berteman harus dengan orang yang baik. Terkadang kalau kita berteman atau bergaul dengan teman yang suka meroko atau mabuk-mabukan, bisa jadi kita juga terbawa meskipun awalnya coba-coba, tetapi nantinya bisa menjadi kebiasaan.

      Seperti remaja yang satu ini, dia bernama Andi. Dia kuliah di Yogyakarta. Terkadang ketika dia mengerjakan soal UTS, UAS dari sejak SMP suka meniru kepada temannya. Meskipun Andi bertanya cuma satu atau dua nomor saja terkadang cuma bertanya caranya, tapi itu sudah bisa dikatakan tidak jujur dalam mengerjakan soal.

        Dari hal-hal yang kecil nantinya akan bertambah menjadi hal-hal yang besar. Awalnya coba-coba nantinya akan terbiasa, ujar Pak Edy Prayitno dosen PTI ketika sedang mengajar. Andi berfikir sepertinya hampir semuanya hal mencontek itu dilakukan orang. Tapi Andi sendiri berharap hal ketidakjujuran itu bisa hilang dari dirinya dan dari teman-temannya juga yang masih melakukan hal mencontek.

     Andi melihat ada banyak perubahan ketika Pa Edi Prayitno mengajar, tapi perubahannya menuju kebaikan. Mulai dari tugas, sering sekali Pa Edi menyuruh mahasiswa itu untuk mencari jawabannya di Internet, tapi bukan berarti hanya copy paste saja, melainkan harus benar-benar di edit. Ketika ada salah satu orang mengumpulkan tugasnya tetapi dia hanya mengcopy paste saja, tanpa harus bicara, Pa Edi sendiri sudah mengetahuinya. Dan tugas itu tidak diterima.

      Begitu pula untuk tugas-tugas yang lain kedepannya semakin banyak ada perubahan yang Andi rasakan. Selanjutnya dari KUIS, assikkk bakalan dapat hadiah nih, kan ada kuisss… husssstt. Kuis di bangku kuliah itu bukan suatu permainan yang merebutkan hadiah, tetapi kuis itu bisa dibilang ULANGAN HARIAN, ulangan harian biasa dipakai ketika Andi masih duduk di bangku SMA.

      Ketika kuis soalnya itu tidak ada yang mengetahui berapa, dosen hanya memasang soal di slide, menggunakan infokus. Dan waktunya juga sudah di atur dari detik dan menitnya. Jadi mahasiswa tinggal mengisinya saja sesuai soal yang ditanyangkan di layar. Saat itu Andi tidak belajar sama sekali, tetapi Andi berusaha untuk bisa  mengerjakannya meskipun ada yang tidak di isi olehnya.

       Andi berusaha mengisi soal KUIS tersebut dengan sebisa mungkin. Ketika di tengan-tengah Andi sedang mengerjakan soal HPnya bergetar suara SMS, ketika Andi buka ternyata SMS dari Kholid sahabatnya Andi, dia bertanya “di ruang berapa PTI ?” Andi menjawab di ruang 3. Menit demi menit berlalu, ternyata sahabatnya belum datang juga, padahal soal KUIS sudah terisi sampai 15 nomor.  Kurang lebih 30 menit waktu berjalan ternyata soalnya sudah sampai 20  soal. Ternyata Kholid belum juga datang.

      Sudah cepat kumpulkan jawabannya, tidak usah lama-lama, ujar Pa Edi kepada mahasiswa. Soalnya kalau ada yang mengumpulkan kurang dari satu menit saja dosen tidak mau menerimanya. Tetapi ada saja salah satu mahasiswa ketika dosen menyuruh mengumpulkannya, dia malah baru menulis nama, ataupun jawabannya dengan meniru temannya yang sudah selesai. Ketika dikumpulkan ternyata banyak yang tertolak tidak diterima oleh dosen.

      Assalamu’alaikum… wa’alaikumsalam, mahasiswa serentak menjawab. Ternyata Kholid baru datang dengan santainya (itu kan sudah kebiasaannya dia.. J). Kholid pun disuruh duduk oleh dosen, dan ditanya telat kenapa, dan orang mana.

        Jawaban yang tidak diterima dosen ternyata banyak. Dan hebatnya Kholid menyelamatkan teman-teman yang tidak diterima jawabannya menjadi mendapatkan nilai 10. Karena Kolid sudah berusaha berangkat meskipun telat. KHOLID adalah pahlawan penyelamat yang datang kuliah kesiangan…hehe..

        Pa Edy bertanya kepada mahasiswa, siapa ketua kelasnya ?? tenyata ketua kelasnya tidak berangkat, lalu Pa Edy bertanya lagi siapa wakilnya, ternyata tidak ada juga. Dan Pa Edy menunjuk Bisri Mustofa yang duduknya paling belakang dekat pintu lagi..hehe..supaya menyampaikan pendatap selama diajar sama Pa Edy, dan untuk memberikan masukan.

       Kebetulan jawaban dari KUIS, Bisri juga tidak diterima oleh dosen, tapi berkat Bisri mau menyampaikan pendapat, dia beruntung bisa mendapatkan nilai seratus tetapi temannya yang jawabannya tidak diterima tetap mendapatkan nilai 10..Hooorreeee… L

  Pa Edi berkata supaya mahasiswa STMIK El Rahma itu terkenal dengan kejujurannya. Andi sendiri setuju dengan apa yang dikatakan Pa Edi. Sebenarnya banyak hal yang masih kita lakukan dari ketidakjujuran selain mencontek. Andi berharap kedepannya tidak cuma Andi yang bisa berubah, teman-teman juga mudah-mudahan bisa berubah menjadi lebih baik lagi, sedikit demi sedikit menghilangkan ketidakjujuran.

“Nilai A di dapat hasil mencontek itu belum tentu menjamin kita sukses, tapi nilai yang di dapat hasil kejujuran insyallah sukses meskipun nilai yang di dapat itu C” (ean).

 

ean

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s